Senin, 21 Desember 2009
Minggu, 18 Oktober 2009
debian linux security with portsentry
Untuk mengistall gunakan perintah:
apt-get install portsentry
lalu edit file fkonfigurasinya di :
nano /etc/portsentry/portsentry.conf
edit bagian:
1.setting port
# Un-comment these if you are really anal:
TCP_PORTS="22"
#TCP_PORTS="1,7,9,11,15,70,79,80,109,110,111,119,138,139,143,512,513,514,515,54$ #port TCP yg dijaga
#UDP_PORTS="1,7,9,66,67,68,69,111,137,138,161,162,474,513,517,518,635,640,6 #port UDP yg dijaga
2.Ubah optio menjadi '1':
BLOCK_UDP="1"
BLOCK_TCP="1"
3.Uncomment bagian berikut:
# iptables support for Linux
KILL_ROUTE="/sbin/iptables -I INPUT -s $TARGET$ -j DROP"
#
misalkan setelah diaktifkan portsentry dan ada IP yg mengakses
dengan port yg dijaga/dilarang maka sesuai aturan diatas maka otomatis route-nya akan dihapus dari route table.
untuk melihat IP yg telah terhapus tabel routingnya ketikan:
route
maka muncul:
root@datacenter:~# route
Kernel IP routing table
Destination Gateway Genmask Flags Metric Ref Use Iface
localnet * 255.255.255.0 U 0 0 0 eth0
default mail.computer.e 0.0.0.0 UG 0 0 0 eth0
Sabtu, 10 Oktober 2009
Sejenak membahas kesabaran
Jum'at pagi 10 Juli 2009, sejenak mendengarkan tausiah singkat DR. Nurul Mukhlisin di Pesantren Mahasiswa Thaybah habis sholat subuh, beliau mengutarakan masalah kesabaran..
Allah Ta'ala berfirman dalam surat al kahfi 28:
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطاً
Artinya:”Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”
Ibnu qoyyim-rahimahullah- mengatakan bawasanya dalam masalah kesabaran ada 3 bagian yang harus kita perhatikan:
1. Ashobru ‘ala Tho’atillah
Bersabar diatas keta’atan kepada Allah sangatlah berat. Rosulullah mengabarkan bahwa surga diliputi dengan makaarih-sesuatu yang tidak mengenakan jiwa-, adapun neraka diliputi dengan syahwat yang kebanyakan jiwa ini cenderung padanya.
2. Ashobru ‘ala tarki maksiatillah
Meninggalkan sesuatu yang pada hakikatnya disukai oleh jiwa kita adalah cukup berat, bagaimanapun yang namanya syahwat pasti enak rasanya dan membuat kita lalai dengannya. Sehingga Allah menjajikan bagi siapa yang mampu berpaling dengannya dengan ganti yang lebih baik. Allah tidak serta merta melarang saja namun Allah menjajikan ganti yang lebih baik -yang mana kebanyakan kita kalau dilarang dari sesuatu pasti mengharap gantinya.
3. Ashobru ‘ala aqdarillah.
Kita harus menyakini bawasanya takdir adalah salah satu dari asrorillah-rahasia Allah-, kita beriman kepadanya dan harus bersabar atasnya. Dan dalam masalah kita bersabar dengan takdir dari Allah bukan berarti kita harus berpangku tangan dan tidak melakukan upaya untuk membuat keadaan kita semakin baik. Namun hendaknya kita berusaha mengubah takdir kita dengan takdir dari Allah juga, maksudnya kita tempuh sebab –sebab perubahan takdir maka takdir kita pun akan berubah sesuai dengan kehendak Allah. Katakanlah kita lapar-ini adalah takdir- maka kita pun makan –dan inipun juga takdir- niscaya dengan izin Allah kita pun akan kenyang-dan ini takdir yang kita harapkan. Begitu juga masalah yang lainya seperti kebodohan , kemiskinan , kelemahan iman dan lainya yang menimpa kita maka kita harus berusaha mengubahnya dengan melazimi sebab-sebabnya yaitu dengan senantiasa belajar, bekerja , berteman dengan orang-orang sholih dan seterusnya..
Allahu musta’an.
Ditulis Abu Zakaria, jum’at, 10 juli menjelang Jum’atan. Mohon koreksinya jika ada kekeliruan.